PERKEMBANGAN DAN PERMASALAHAN BERAT BADAN ANAK


Gagal Berkembang adalah suatu keadaan dimana berat badan anak atau pertambahan berat badan anak secara signifikan berada dibawah berat badan anak lainnya yang sama umur dan jenis kelaminnya

  PENYEBAB
Gagal berkembang biasanya ditemukan pada anak kecil, terutama yang berumur dibawah 2 tahun.  Gagal berkembang pada bayi dan anak-anak biasanya ditandai dengan kegagalan dalam menambah berat badan dan tinggi badan. Pada remaja, tubuhnya terlihat pendek dan perkembangan seksualnya kurang.
Penyebabnya bisa berupa faktor intrinsik (berasal dari dalam diri anak, biasanya merupakan masalah kesehatan) atau faktor ekstrinsik (berasal dari lingkungan diluar anak, biasanya merupakan masalah psikososial).
Yang termasuk ke dalam faktor intrinsik:
·         Kelainan kromosom (misalnya sindroma Down dan sindroma Turner)
·         Defek pada sistem organ utama
·         Kelainan pada sistem endokrin, misalnya kekurangan hormon tiroid, kekurangan hormon pertumbuhan atau kekurangan hormon lainnya
·         Kerusakan otak atau sistem saraf pusat yang bisa menyebabkan kesulitan dalam pemberian makanan pada bayi dan menyebabkan keterlambatan pertumbuhan
·         Kelainan pada sistem jantung dan pernafasan yang bisa menyebabkan gangguan mekanisme penghantaran oksigen dan zat gizi ke seluruh tubuh
·         Anemia atau penyakit darah lainnya
·         Kelainan pada sistem pencernaan yang bisa menyebabkan malabsorbsi atau hilangnya enzim pencernaan sehingga kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi
·         Beberapa penyakit (misalnya cerebral palsy, gastroenteritis menahun dan refluks gastroesofageal).

Yang merupakan faktor ekstrinsik:
·         Faktor psikis dan sosial (misalnya tekanan emosional akibat penolakan atau kekerasan dari orang tua). Depresi bisa menyebabkan nafsu makan anak berkurang. Depresi bisa terjadi jika anak tidak mendapatkan rangsangan sosial yang cukup, seperti yang dapat terjadi pada bayi yang diisolasi dalam suatu inkubator atau pada anak yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya.
·         Faktor ekonomi (dapat mempengaruhi masalah pemberian makanan kepada anak, tempat tinggal dan perilaku orang tua). Keadaan ekonomi yang pas-pasan dapat menyebabkan anak tidak memperoleh gizi yang cukup untuk perkembangan dan pertumbuhannya
·         Faktor lingkungan (termasuk pemaparan oleh infeksi, parasit atau racun).
Faktor resiko terjadinya gagal berkembang:
-          Penyakit yang diderita anak tetapi tidak terdiagnosis
-          Kemiskinan
-          Lingkungan emosional yang negatif
-          Tempat tinggal yang berdesakan serta kumuh.
Gejalanya berupa:
-          Tinggi badan, berat badan dan lingkar kepala tidak berkembang secar normal berdasarkan tabel pertumbuhan standar (tinggi badan kurang dari 3 persentil, berat badan 20% dibawah berat badan ideal terhadap tinggi badan atau kurva pertumbuhannya menurun dari sebelumnya)
-          Kemampuan fisik (seperti berguling, duduk, berdiri dan berjalan) berkembang secara lambat
-          Kemampuan mental dan sosial tertunda
-          Perkembangan ciri seksual sekunder tertunda (pada remaja).
Pada pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan. Hasil pengukuran ini dibandingkan dengan hasil pengukuran pada kunjungan yang lalu dan dengan grafik standar. Jika laju pertumbuhannya cukup, maka dikatakan normal meskipun anaknya kecil. Untuk mengetahui mengapa anak ini kecil, perlu dilakukan pemeriksaan fisik dan ditanyakan mengenai kebiasaan makan, masalah sosial dan penyakit yang pernah diderita anak maupun anggota keluarga lainnya.

Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:
·         Pemeriksaan darah lengkap (untuk melihat adanya anemia)
·         Elektrolit
·         Analisa air kemih
·         Tes fungsi tiroid
·         Pemeriksaan hormon lainnya
·         Elektroforesa hemoglobin untuk menentukan adanya penyakit sel sabit
·         Rontgen untuk menentukan usia tulang.
 Pengobatan tergantung kepada penyebabnya. Setiap penyakit yang diduga menjadi penyebab terjadinya gagal berkembang, harus diobati. kegagalan pertumbuhan akibat faktor gizi dapat diatasi dengan menerapkan pola makan seimbang dan memberikan pendidikan kepada orang tua.  Jika melibatkan faktor psikososial, pengobatan sebaiknya meliputi perbaikan dinamika keluarga dan lingkungan tempat tinggal. Sikap dan perilaku orang tua bisa berpengaruh terhadap masalah anak dan perlu dievaluasi.
Pada beberapa kasus, anak perlu dirawat di rumah sakit agar bisa diterapkan suatu rencana pengobatan yang menyeluruh dari segi medis, perilaku dan psikososial.
Jika keadaan ini belum berlangsung lama dan penyebabnya diketahui serta dapat diperbaiki, maka anak akan kembali mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang normal. Jika keadaannya telah berlangsung lama, maka efeknya mungkin juga akan berlangsung lama dan pertumbuhan serta perkembangan yang normal mungkin tidak dapat dicapai.

C.MASALAH PERILAKU
Masalah Perilaku adalah pola perilaku yang sulit, yang dapat mengancam hubungan yang normal antara anak dengan orang lain di sekelilingnya. Masalah perilaku bisa merupakan akibat dari l ingkungan, kesehatan, tabiat atau perkembangan anak.  Masalah perilaku juga bisa timbul akibat hubungan yang tidak harmonis dengan orang tua, guru maupun pengasuhnya. Untuk mendiagnosis suatu masalah perilaku, biasanya ditanyakan menganai kegiatan anak sehari-hari secara kronologis dan menyeluruh. Pembahasan dipusatkan pada lingkungan yang menyebabkan timbulnya gangguan perilaku dan perilaku itu sendiri secara terperinci. Juga dilakukan pengamatan terhadap interaksi antara anak dan orang tua.
Masalah perilaku semakin lama cenderung semakin memburuk karena itu untuk mencegah progresivitasnya perlu dilakukan pengobatan dini . Kontak yang lebih positif dan lebih menyenangkan antara orang tua dan anak dapat meningkatkan harga diri anak dan orang tua. Interaksi yang lebih baik dapat membantu memecahkan lingkaran setan dari perilaku negatif yang menyebabkan timbulnya respon negatif.



Masalah Interaksi Anak-Orang tua
Masalah Interaksi Anak-Orang Tua adalah kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam hubungan antara anak dan orang tuanya.Masalah interaksi bisa mulai timbul pada beberapa bulan pertama kehidupan anak. Hubungan antara ibu dan anak mungkin menjadi tegang akibat:
o   kesulitan yang dialami ibu selama kehamilan maupun persalinan
o   depresi pasca persalinan kurangnya dukungan dari suami, keluarga maupun teman.
o   waktu menyusu dan waktu tidur bayi yang tidak teratur (sampai umur 2-3 bulan, kebanyakan bayi tidak tidur pada malam hari; pada saat-saat ini mereka sering menangis).
o   Kelelahan, kebencian dan rasa bersalah orang tua bercampur dengan rasa putus asa sehingga mempengaruhi hubungan orang tua dengan bayinya. Hubungan yang buruk antara anak dan orang tua bisa memperlambat perkembangan mental dan kemampuan sosial anak dan bisa menyebabkan terjadinya kegagalan berkembang.

Kepada orang tua sebaiknya diberikan informasi yang lengkap mengenai perkembangan bayi disertai nasihat atau kiat untuk menghadapinya. Tabiat bayi bisa dievaluasi dan didiskusikan.Hal ini bisa membantu orang tua untuk lebih realistis dan menyadari bahwa rasa bersalah dan konflik merupakan emosi yang normal dalam pengasuhan anak. Dengan demikian orang tua akan belajar menerima perasaannya dan mencoba membangun hubungan yang sehat.

D. KECEMASAN KARENA BERPISAH
Kecemasan Karena Berpisah adalah kecemasan yang dirasakan oleh anak ketika orang tuanya meninggalkannya sendiri. Menangis ketika ditinggalkan oleh ibunya atau menangis jika didekati orang yang tidak dikenalnya, merupakan suatu tahap perkembangan normal yang ditemukan pada bayi usia 8 bulan dan berlangsung sampai usia 18-24 bulan.
Pada umur 2 tahun, anak batita (dibawah tiga tahun) mulai memahami bahwa orang tuanya mungkin tidak terlihat oleh mata tetapi mereka pasti akan kembali.
Pada saat bayi berkembang dan lebih memperhatikan serta berinteraksi dengan lingkungannya, dia akan mengalami berbagai emosi seperti rasa percaya, rasa aman dan nyaman. Jika dia merasa kurang akrab dengan lingkungannya, maka akan timbul rasa takut.
Pada usia 8-24 bulan, anak-anak mengalami perasaan takut jika tidak berada dalam lingkungan yang akrab dan aman. Mereka mengenal orang tuanya sebagai lingkungan yang akrab dan aman. Jika berpisah dari orang tua, mereka merasa terancam dan tidak aman.
Gejalanya bisa berupa:
-          Kesedihan berlebih ketika berpisah dengan ibu
-          Khawatir akan kehilangan atau terjadi sesuatu yang buruk pada ibu
-          Sering enggan pergi ke sekolah atau tempat lainnya karena takut berpisah
-          Tidak mau tidur jika tidak ditemani oleh orang dewasa
-          Mimpi buruk
-          Sering mengeluhkan keadaan fisiknya
Beberapa orang tua (terutama yang baru pertama kali memiliki anak) menduga bahwa kecemasan karena berpisah ini merupakan suatu gangguan emosional dan mereka menghadapinya dengan bersikap protektif. Sang ayah mengartikan kecemasan karena berpisah sebagai pertanda bahwa anak terlalu dimanja dan menyalahkan ibunya atau mencoba untuk merubah perilaku anak dengan cara memarahi dan memberi hukuman.
Sebaiknya orang tua diyakinkan bahwa perilaku anak adalah normal. Orang tua didorong untuk tidak terlalu protektif dan mengekang anak serta dianjurkan untuk membiarkan anaknya berkembang secara normal. 
Penyelesaian terhadap masalah kecemasan ini tergantung kepada rasa aman dan rasa percaya yang mereka miliki terhadap orang selain orang tuanya, lingkungannya dan keyakinan akan kembalinya orang tua mereka.
Meskipun anak telah berhasil melewati masa perkembangan ini, kecemasan karena berpisah mungkin akan kembali pada saat anak mengalami stres. Kebanyakan anak akan mengalami kecemasan jika berada dalam situasi yang tidak dikenalnya dengan baik, terutama jika terpisah dari orang tuanya.

E. MASALAH MAKAN
Penurunan nafsu makan normal yang disebabkan oleh laju pertumbuhan yang lambat sering ditemukan pada anak usia 1-8 bulan. Masalah makan bisa terjadi jika orang tua atau pengasuh memaksa anak untuk makan atau terlalu mengkhawatirkan nafsu makan maupun kebiasaan makan anak. Anak tidak menelan makanannya tetapi malah menyimpan/menahannya di dalam mulut atau bahkan memuntahkannya. Keadaan ini dapat diatasi dengan mengurangi ketegangan dan emosi yang negatif pada waktu makan.
Sebaiknya anak dibiarkan memakan makanan yang dipilihnya pada waktu makan dan jangan dibiasakan untuk ngemil diantara jam-jam makan. Dengan cara ini keseimbangan antara nafsu makan, banyaknya makanan yang dimakan serta kebutuhan gizinya akan terpenuhi.

F. GANGGUAN TIDUR

Mimpi buruk adalah mimpi menakutkan yang terjadi selama tidur REM) (rapid eye movement.  Seorang anak yang mengalami mimpi buruk biasanya akan benar-benar terbangun dan dapat mengingat kembali mimpinya secara terperinci.
Mimpi buruk yang terjadi sewaktu-waktu adalah hal yang normal, dan satu-satunya tindakan yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah menenangkan anak. Tetapi mimpi buruk yang sering terjadi adalah abnormal dan bisa menunjukkan adanya masalah psikis. Pengalaman yang menakutkan (termasuk cerita seram atau film tentang kekerasan di televisi) bisa menyebabkan terjadinya mimpi buruk. Hal ini terutama sering ditemukan pada anak-anak yang berumur 3-4 tahun, karena mereka belum bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Teror di malam hari adalah suatu keadaan dimana sesaat setelah tertidur, anak separuh terbangun dengan kecemasan yang luar biasa. Anak tidak dapat mengingat kembali apa yang telah dialaminya. Tidur sambil berjalan adalah suatu keadaan dimana dalam keadaan tertidur, anak bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan-jalan.
Teror di malam hari dan tidur sambil berjalan biasanya berlangsung selama tidur dalam (non-REM) dan terjadi dalam 3 jam pertama setelah anak tertidur. Setiap episode bisa berlangsung dari beberapa detik sampai beberapa menit. Teror di malam hari sifatnya dramatis karena anak menjerit-jerit dan panik; keadaan ini paling sering ditemukan pada anak yang berumur 3-8 tahun.
Seorang yang tidur sambil berjalan memiliki cara berjalan yang janggal/kaku, tetapi biasanya dapat menghindari benda-benda sehingga tidak terbentur. Mereka tampak linglung tetapi tidak menunjukkan rasa takut. Mereka akan terbangun secara tiba-tiba dengan pandangan mata yang kosong atau bingung. Pada awalnya mereka belum sepenuhnya terbangun atau belum sepenuhnya tanggap terhadap orang di sekelilingnya.
Ketika terbangun di pagi hari, mereka tidak dapat mengingat kembali apa yang telah terjadi.
Sekitar 15% anak yang berumur 5-12 tahun minimal pernah mengalami sekali berjalan dalam keadaan tidur. 1-6% anak laki-laki usia sekolah mengalami tidur sambil berjalan secara terus menerus, yang biasanya dipicu oleh peristiwa yang menegangkan (stres).
Tidak mau tidur merupakan masalah yang sering ditemukan, terutama pada anak-anak yang berumur 1-2 tahun. Mereka menangis jika ditinggalkan sendiri di tempat tidurnya atau meninggalkan tempat tidurnya dan mencari orang tuanya. Hal ini berhubungan dengan kecemasan karena berpisah dan dengan upaya anak untuk mengendalikan lebih banyak lagi aspek dari lingkungannya.
Terbangun di malam hari adalah gangguan tidur yang sering ditemukan pada anak-anak yang masih kecil. Sekitar 50% dari anak-anak yang berumur 6-12 bulan sering terbangun di malam hari. Anak--anak yang mengalami kecemasan karena berpisah juga sering terbangun di malam hari. Anak-anak yang lebih besar sering terbangun di malam hari karena sakit, suatu gerakan atau peristiwa menegangkan lainnya. Terbangun di malam hari bisa semakin sering terjadi jika anak terlalu lama tidur siang dan terlalu bersemangat bermain sebelum tidur malam.
Teror malam dan tidur sambil berjalan hampir selalu hilang dengan sendirinya, meskipun sekali-kali terjadi selama beberapa tahun. Jika keadaan tersebut terus berlangsung sampai masa remaja dan dewasa, mungkin anak memiliki kelainan psikis.
Untuk anak yang susah tidur bisa dilakukan beberapa tindakan berikut:
ajak anak kembali ke tempat tidurnya bacakan cerita yang pendek
·         tawari untuk ditemani oleh boneka ataupun selimut kesayangannya
·         gunakan lampu redup.
Untuk menjaga keamanan bagi anak yang berjalan sambil tidur, sebaiknya pintu kamarnya dikunci dari luar tetapi hal ini harus dipertimbangkan secara seksama agar anak tidak merasa dikurung.

G. MASALAH PELATIHAN BUANG AIR
Pelatihan buang air besar biasanya mulai dilakukan pada saat anak berumur 2-3 tahun, sedangkan pelatihan buang air kecil dilakukan pada umur 3-4 tahun.
Pada umur 5 tahun, kebanyakan anak sudah dapat melakukan buang air besar sendiri; melepas pakaian dalamnya sendiri, membersihkan dan mengeringkan penis, vulva maupun anusnya sendiri serta kembali memakai pakaian dalamnya sendiri.
Tetapi sekitar 30% anak berusia 4 tahun dan 10% anak berusia 6 tahun masih mengompol pada malam hari.
Cara terbaik untuk menghindari timbulnya masalah pelatihan buang air (toilet training) adalah dengan mengenali kesiapan anak. Adapun tanda dari kesiapan anak adalah:
·         Selama beberapa jam pakaian dalamnya kering
·         Anak menginginkan pakaian dalamnya diganti jika basah
·         Anak menunjukkan ketertarikannya untuk duduk diatas potty chair (pispot khusus untuk anak-anak) atau diatas toilet (jamban, kakus)
·         Anak mampu mengikuti petunjuk/aturan lisan yang sederhana.
Kesiapan anak biasanya terjadi pada usia 24-36 bulan.
Metode toilet training yang paling banyak digunakan adalah metode timing. Anak yang tampaknya sudah siap diperkenalkan kepada potty chair dan secara bertahap diminta untuk duduk diatasnya sebentar saja dalam keadaan berpakaian lengkap. Kemudian anak diminta untuk melepaskan pakaian dalamnya sendiri, lalu duduk diatas potty chair selama tidak lebih dari 5-10 menit. Hal tersebut dilakukan sambil ibu memberikan penjelasan bahwa sekarang sudah saatnya anak untuk melakukan buang air besar/kecil di tempatnya (maksudnya pada potty chair atau kloset), bukan di pakaian dalam ataupun popok. Jika anak sudah bisa melakukannya, ibu boleh memberikan pujian ataupun hadiah. Tetapi jika anak belum bisa melakukannya, ibu sebaiknya tidak memarahi maupun menghukum anak.
Metode timing efektif untuk anak-anak yang memiliki jadwal buang air besar/kecil yang teratur.
Metode toilet training lainnya menggunakan boneka sebagai alat bantu. Kepada anak yang sudah siap, diajarkan cara-cara toilet training dengan menggunakan boneka sebagai model. Ibu memberikan pujian kepada boneka karena pakaian dalamnya kering dan telah berhasil melewati setiap proses toilet training.
Kemudian ibu meminta anak untuk menirukan proses toilet training dengan bonekanya secara berulang-ulang, anak juga diajari untuk memuji bonekanya. Selanjutnya, anak menirukan apa yang telah dilakukan oleh bonekanya dan ibu memberikan pujian kepada anak.
Jika anak tetap bertahan duduk di toilet, sebaiknya diangkat dan toilet training dicoba kembali setelah anak makan. Jika hal ini berlangsung selama beberapa hari, sebaiknya toilet training ditunda selama beberapa minggu. Sangat penting untuk memberikan pujian kepada anak yang telah berhasil melakukan toilet training.
Setelah pola buang air besar/kecil stabil, secara perlahan pujian tersebut dikurangi. Memaksa anak untuk buang air besar/kecil di toilet dengan kekerasan tidak efektif dan bisa menyebabkan ketegangan pada hubungan ibu-anak.

H. ENURESIS NOKTURNAL
Enuresis nokturnal (bed-wetting) adalah buang air kecil secara tidak sengaja dan terjadi secara berulang ketika sedang tidur, pada seorang anak yang sudah cukup besar dan semestinya sudah tidak mengompol lagi di tempat tidur.
Sekitar 30% anak berumur 4 tahun, 10% anak berumur 6 tahun, 3% anak berumur 12 tahun dan 1% anak berumur 18 tahun masih mengompol di tempat tidur.
Bed-wetting lebih sering ditemukan pada anak laki-laki.
Penyebabnya biasanya adalah terlambatnya proses pendewasaan, yang kadang disertai dengan gangguan tidur (misanya tidur sambil berjalan atau teror malam).
1-2% kasus disebabkan oleh kelainan fisik (biasanya berupa infeksi saluran kemih).
Bed-wetting juga kadang disebabkan oleh masalah psikis.
Kadang bed-wetting berhenti kemudian timbul lagi. Kekambuhan ini biasanya terjadi karena anak mengalami peristiwa yang menegangkan atau karena anak menderita kelainan fisik (misalnya infeksi saluran kemih).
Untuk anak yang berumur kurang dari 6 tahun, biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan, hanya menunggu sampai gejalanya hilang dengan sendirinya.
Setiap tahunnya, pada 15% anak yang berumur lebih dari 6 tahun, bed-wetting akan berhenti dengan sendirinya. Jika hal ini tidak terjadi, bisa dicoba salah satu dari 3 jenis pengobatan berikut: (melindungi) serta menghindari perpisahan maupun lingkungan yang baru. Respon seperti ini bisa menyebabkan terjadinya gangguan pada pematangan /pendewasaan dan perkembangan anak.
Konsultasi dan terapi perilaku. Konsultasi melibatkan anak dan orang tua; diberikan penjelasan bahwa bed-wetting memang agak sering terjadi, dapat diperbaiki dan tidak perlu menimbulkan rasa bersalah pada siapapun.
Terapi perilaku untuk anak:
·         Menandai pada penanggalan/kalender malam-malam dimana dia mengompol maupun tidak
·         Menahan diri untuk tidak minum 2-3 jam sebelum tidur
·         Melakukan buang air kecil sebelum tidur
·         Mengganti pakaian dan seprenya sendiri jika mengompol.
Terapi perilaku untuk orang tua:
·         Tidak menghukum atau memarahi anak karena mengompol
·         Memberikan pujian/hadiah jika anak tidak mengompol (misalnya memberikan tanda bintang pada kalender atau hadiah lainnya, tergantung kepada usia anak).
·         Alarm ngompol.
Merupakan metode pengobatan yang paling efektif, mampu menyembuhkan 70% anak yang mengompol dan hanya 10-15% yang mengompol kembali setelah metode ini dihentikan.
Metode ini tidak mahal dan mudah diterapkan meskipun cara kerjanya lambat.
Alarm akan berbunyi jika telah keluar beberapa tetes air kemih. Pada beberapa minggu pertama, anak akan terbangun setelah ngompol. Beberapa minggu berikutnya anak terbangun setelah sedikit mengeluarkan air kemihnya dan tempat tidurnya belum terlalu basah. Lama-lama anak akan terbangun karena ingin buang air kecil dan tempat tidurnya masih kering. Alam ini boleh dilepas setelah 3 minggu anak tidak mengompol.
Terapi obat.
Pemberian obat pada saat ini lebih jarang dilakukan karena alarm ngompol lebih efektif dan obat-obatan mungkin akan menimbulkan efek samping.
Jika pengobatan lainnya gagal dan orang tua sangat menginginkan pemberian obat, biasanya diberikan imipramin.
Imipramin adalah obat anti-depresi yang mengendurkan kandung kemih dan memperkuat sfingter yang menghambat aliran air kemih. Keuntungan dari pemberian obat adalah cara kerjanya yang cepat. Setelah selama 1 bulan anak tidak mengompol, dosisnya diturunkan dan diberikan selama 2-4 minggu, kemudian pemberian obat dihentikan.  Sekitar 75% anak akan ngompol kembali setelah obat dihentikan. Jika hal ini terjadi, bisa dicoba diberikan obat selama 3 bulan.
Contoh darah diperiksa setiap 2-4 minggu untuk memastikan bahwa jumlah sel darah putih tidak berkurang (karena salah satu efek samping dari obat ini adalah penurunan jumlah sel darah putih).
Pilihan lainnya dalah obat semprot hidung desmopressin, yang mengurangi pengeluaran air kemih. Efek sampingnya sedikit tetapi harganya mahal.

I.     ENKOPRESIS
Enkopresis adalah secara tidak sengaja buang air besar, tetapi bukan disebabkan oleh penyakit maupuan kelainan fisik. Sekitar 17% anak berumur 3 tahun dan 1% anak berumur 4 tahun mengalami enkopresis. Kebanyakan hal ini terjadi karena anak tidak mau menjalani toilet training. Tetapi kadang enkopresis disebabkan oleh sembelit, yang menyebabkan teregangnya dinding usus dan berkurangnya kesiagaan/kesadaran anak akan ususnya yang telah penuh serta terganggunya pengendalian otot.
Jika penyebabnya adalah sembelit, maka diberikan obat pencahar dan tindakan lainnya agar jadwal buang air besar anak menjadi teratur. Jika penyebabnya adalah karena tidak mau menjalani toilet trainng, mungkin perlu dilakukan konsultasi dengan psikolog.

Penyebab sembelit kronis yang bisa menyebabkan terjadinya enkopresis:
-          Menahan buang air besar karena takut menggunakan jamban
-          Tidak mau belajar menggunakan jamban
-          Fissura anus (robekan pada lapisan anus yang menimbulkan nyeri)
-          Kelainan bawaan (misalnya kelainan korda spinalis
-          Penyakit Hirschsprung
-          Kadar tiroid yang rendah
-          Gizi yang buruk
-          Cerebral palsy
-          Kelainan psikis pada anak atau keluarganya.


J. GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN
Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder (ADD) adalah suatu pemusatan perhatian yang buruk atau singkat dan sifat impulsif (mengikuti kata hati) yang tidak sesuai dengan usia anak, dengan atau tanpa hiperaktivitas. ADD diperkirakan terjadi pada 5-10% anak usia sekolah dan 10 kali lebih sering ditemukan pada anak laki-laki. Tanda-tanda dari ADD banyak yang sudah tampak sebelum anak berumur 4 tahun tetapi baru menimbulkan gangguan yang berarti pada usia sekolah. Penyakit ini biasanya diturunkan. Penelitian terakhir menujukkan bahwa penyakit ini terjadi akibat adanya kelainan pada neurotransmiter (zat yang menghantarkan gelombang saraf di dalam otak).
ADD seringkali diperburuk oleh lingkungan di rumah maupun sekolah. ADD terutama merupakan suatu masalah dalam pemusatan perhatian, konsentrasi dan ketekunan menjalankan tugas. Anak juga mungkin bersifat impulsif dan overaktif. Diagnosis ADD biasanya ditegakkan jika anak memiliki 8 dari 14 gejala berikut: atau kelainan anus)
  • Gelisah (seringkali meremas-remas tangannya atau menggeliatkan kakinya)
  • Tidak dapat diminta duduk tenang
  • Perhatiannya mudah terganggu oleh rangsangan yang asing
  • Tidak dapat menunggu gilirannya jika sedang bermain dalam kelompok
  • Seringkali melontarkan jawaban sebelum pertanyaan selesai diberikan
  • Mengalami kesulitan dalam mengikuti petunjuk dari orang lain, meskipun dia memahaminya dan tidak berusaha untuk melawan
  • Mengalami kesulitan dalam mempertahankan perhatiannya ketika sedang melakukan aktivitas belajar ataupun bermain
  • Seringkali meninggalkan kegiatan yang belum tuntas dan beralih kepada kegiatan yang baru
  • Mengalami kesulitan untuk bermain dengan tenang
  • Seringkali terlalu banyak berbicara
  • Seringkali menyela percakapan atau mengganggu orang lain
  • Seringkali tidak mendengarkan apa yang telah dikatakan kepadanya
  • Seirngkali kehilangan benda-benda yang diperlukan dalam kegiatan belajarnya di sekolah maupun di rumah
  • Seirngkali terlibat dalam aktivitas fisik yang berbahaya tanpa mempertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkannya.
Pengobatan yang paling efektif adalah obat-obat psikostimulan (perangsang psikis).
Terapi perilaku dipimpin oleh seorang psikolog anak yang biasanya dikombinasikan dengan terapi obat. Seringkali diperlukan teknik pengasuhan yang terstruktur, teratur dan dimodifikasi. Tetapi kepada anak-anak yang tidak terlalu agresif dan berasal dari lingkungan rumah yang stabil, hanya diberikan terapi obat.
Obat yang paling sering diberikan adalah metilfenidat. Obat ini telah terbukti lebih efektif daripada anti-depresi, kafein dan psikostimulan lainnya, serta menimbulkan efek samping yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan dekstroamfetamin. Efek samping yang biasa timbul adalah gangguan tidur (misalnya insomnia) dan berkurangnya nafsu makan. Efek samping lainnya adalah depresi atau perasaan sedih, sakit kepala, nyeri lambung dan tekanan darah tinggi. Jika diminum dalam dosis tinggi dan dalam waktu yang lama, metilfenidat bisa memperlambat pertumbuhan anak.
Anak dengan ADD biasanya tidak dapat mengatasi kesulitannya sendiri. Masalah yang timbul atau tetap ada pada masa remaja dan dewasa adalah kegagalan akademis, harga diri yang rendah, kecemasan, depresi dan kesulitan dalam mempelajari perilaku sosial yang benar. Mereka tampaknya lebih bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan daripada dengan lingkungan sekolah. Jika ADD tidak diobati, maka penderita memiliki resiko mengkonsumsi alkohol atau zat lainnya serta memiliki resiko bunuh diri yang lebih tinggi.

K. KETIDAKMAMPUAN BELAJAR
Ketidakmampuan Belajar adalah ketidakmampuan untuk menerima, menyimpan dan menggunakan secara luas kemampuan ataupun informasi khusus, yang terjadi akibat kurangnya pemusatan perhatian, memori atau pemikiran dan hal ini mempengaruhi prestasi akademik.
Terdapat berbagai jenis ketidakmampuan belajar dan masing-masing tidak memiliki penyebab yang pasti. Tetapi dasar dari semua jenis ketidakmampuan belajar ini diyakini merupakan suatu kelainan pada fungsi otak. Ketidakmampuan belajar 5 kali lebih sering ditemukan pada anak laki-laki. Seorang anak yang mengalami ketidakmampuan belajar seringkali mengalami kesulitan dalam mengkoordinasikan penglihatan dan gerakannya serta menunjukkan kecanggungan ketika melaksanakan kegiatan fisik, seperti memotong, mewarnai, mengancingkan baju, mengikat tali sepatu dan berlari. Anak juga mungkin mengalami masalah dengan persepsi penglihatan atau pengolahan fonologis
Beberapa anak mengalami masalah dalam membaca, menulis maupun berhitung. Tetapi kebanyakan ketidakmampuan belajar ini sifatnya kompleks dan kelainannya terjadi di lebih satu daerah. Anak mungkin lambat dalam:
-          mempelajari jenis warna atau huruf
-          menyebutkan nama benda yang dikenalnya,
-          berhitung
-          mencapai kemajuan dalam kemampuan belajar dini lainnya. Belajar menulis dan membaca mungkin tertunda. Gejala lainnya adalah pemusatan perhatian yang pendek dan perhatiannya mudah terganggu, percakapannya terputus serta ingatannya pendek. Anak juga mungkin mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan mengendalikan dorongan serta memiliki masalah dalam kedisiplinan. Mereka mungkin menunjukkan sikap hiperaktif, menarik diri, pemalu atau agresif.
Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan berbagai pemeriksaan berikut:
-          Pemeriksaan fisik
-          Serangkaian tes kecerdasan (verbal dan non-verbal, termasuk tes membaca, menulis dan berhitung).
-          Tes psikis.
Untuk membantu meningkatkan perhatian dan konsentrasi bisa diberikan metilfenidat. Pengobatan yang paling efektif adalah pendidikan yang secara seksama disesuaikan dengan individu anak.

L. DISLEKSIA
Disleksia adalah ketidakmampuan belajar yang terutama mengenai dasar berbahasa tertentu, yang mempengaruhi kemampuan mempelajari kata-kata dan membaca meskipun anak memiliki tingkat kecerdasan rata-rata atau diatas rata-rata, motivasi dan kesempatan pendidikan yang cukup serta penglihatan dan pendengaran yang normal. Disleksia cenderung diturunkan dan lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki. Disleksia terutama disebabkan oleh kelainan otak yang mempengaruhi proses pengolahan bunyi dan bahasa yang diucapkan.
Kelainan ini merupakan kelainan bawaan, yang bisa mempengaruhi penguraian kata serta gangguan mengeja dan menulis. Anak sangat terlambat berbicara, mengalami kesulitan dalam mengucapkan kata serta dalam mengingat nama huruf, angka dan warna. Mereka mengalami kesulitan dalam mencampur bunyi, mengiramakan kata, mengenali posisi bunyi dalam kata, memisahkan kata ke dalam bunyi dan mengenali jumlah bunyi dalam kata. Anak ragu dalam memilih kata, menemukan pengganti kata dan memberi nama huruf serta gambar.
Mereka keliru/bingung dalam mengenali kata atau huruf yang serupa; huruf d sering disebutnya sebagai huruf b.
Tes untuk disleksia sebaiknya dilakukan pada anak-anak yang:
-          Tidak mencapai kemajuan dalam kemampuan mempelajari kata-kata pada pertengahan atau akhir kelas pertama.
-          Belum bisa membaca padahal berdasarkan kemampuan verbal maupun intelektualnya seharusnya sudah bisa membaca Lambat dalam belajar membaca
-          Belum fasih berbicara.
Pengobatan yang terbaik adalah instruksi langsung, yang menggabungkan pendekatan multisensorik. Jenis pengobatan ini terdiri dari pengajaran suara dengan berbagai isyarat, biasanya terpisah dan (jika memungkinkan) merupakan bagian dari program membaca. Instruksi tidak langsung juga bisa diterapkan. Biasanya terdiri dari pelatihan untuk mengucapkan kata atau pemahaman membaca. Anak diajari bagaimana caranya untuk mengolah bunyi dengan mencampur bunyi untuk membentuk kata, dengan memisahkan kata ke dalam huruf dan dengan mengenali posisi bunyi dalam kata. (misalnya dalam mengenali bagian-bagian atau pola dan membedakan berbagai jenis suara) atau masalah dengan ingatan, percakapan, pemikiran serta pendengaran. (www.tanyadokter.com/disease)
M. PHOBIA SOSIAL
a.       Defenisi
Phobia sosial adalah gangguan perkembangan sosial anak dimana anak berada dalam  kondisi irasional yaitu kecemasan yang berlebihan ketika berinteraksi dengan lingkungan sosial.

b.      Ciri-ciri
1)      Anak takut berintaraksi dengan lingkungan sosial
2)      Anak enggan untuk berangkat kesekolah dan tempat-tempat keramaian.
3)      Anak tidak mau berkenalan dengan teman sebaya atau orang lain, cenderung menghindari kontak mata dengan orang lain, menarik diri, cemas ketika berhadapan dengan orang lain.
4)      Anak selalu menempel pada orang tua, tidak mau ditinggal di sekolah.
5)      Rendahnya kepercayaan diri anak, memiliki konsep negative takut tidak di teriman di lingkungan.


c.       Penyebab
1)      Pola asuh yang salah sehingga perkembangan kemandirian sosialnya terhambat, misal orang tua dengan pengasuhan yang otoriter, atau overprotektif.
2)      Trauma
3)      Genetik/bawaan dari lahir
Yaitu pada masa janin perkembangan otak anak tidak normal, terdapat kelebihan pada otak bagian kanan (amygdala) yang berperan mengontrol rasa takut. Respon tersebut menimbulkan reaksi fisik saat anak berinteraksi, misal pusing, mual, sakit perut, keringat dingin. Reaksi fisik  tersebut dipicu oleh adanya overaktif pada system saraf otonom yang mengatur system saraf denyut jantung.

d.      Perbedaan phobia sosial dengan anak pemalu/pencemas.
Pada anak dengan phobia sosial, dia menganggap segala perilakunya akan dinilai oleh orang lain. Pikirannya hanya terfokus pada hal tersebut sehingga membuatnya tidak mampu mengatasi rasa cemas.  Sedangkan pada anak pemalu, ia hanya takut berinteraksi dengan lingkungan sosial sementara waktu, ketika sudah bisa beradaptasi, ia akan bergaul secara normal dengan teman-teman sebaya dan orang-orang disekitarnya.

e.       Penanganan
1)      Mengevaluasi pola asuh. Idealnya orang tua bersikap demokratis, tetap memegang kendali namun tetap memberikan kebebasan anak berpendapat.
2)      Agenda sosialisasi. Masukkan jadwal sosialisasi dalam jadwal kegiatan anak. Anak sebaiknya tidak teralu disibukkan dengan les privat sehingga membuat ia lupa bermain dengan teman-temannya. Pastikan anak mempunyai waktu untuk menambah koleksi teman dan berinteraksi dengan teman lama.
3)      Kenalkan anak pada beragam karakter. Hal ini dapat dilakukan dengan membacakan cerita fiksi, mengenalnya tokok-tokoh yang ada  didalam cerita tersebut, atau bisa juga menceritakan pengalaman berteman guru/orang tua kemudian membiarkan anak memperlajari tokoh-tokoh yang diceritakan dan minta anak untuk menceritakan  kembali  apa yang ia dengar dan pahami dari karakter tokoh-tokoh tersebut.
4)      Bermain peran. Hal ini untuk melatih anak komunikasi interpersonal. Misal, bermain telpon-telponan, guru/oarngtua sebagai penelpon, anak sebagai penerima. Atau bermain dengan bertamu kerumah tetangga, guru/orangtua sebagai tuan rumah, anak sebagai tetangga yang berkunjung.
5)      Sering mengajak anak silaturahim kekerabat, sepupu, tetangga, bermain di taman bermain dan tempat keramaian lain.

N. HIPERAKTIVITAS
a.  Defenisi
          Hiperaktivitas adalah suatu gangguan perkembangan pada tingkat aktivitas anak, dimana anak memiliki aktivitas yang berlebihan (tinggi), ata suatu pola perilaku anak yang menyebabkan sikap anak tidak mau diam, tidak bisa focus perhatian dan impulsive (semaunya sendiri). Anak hiperaktif cenderung selalu bergerak dan tidak bisa tenang.
b.    Perbedaan  overaktif, hiperaktif dan sindrom hiperkenetik.
1)      Overaktif adalah keadaan dimana anak tidak mau diam, disebabkan karena anak kelebihan energy. Hal ini menunjukkan anak berada dalam keadaan sehat, cerdas dan penuh semangat.
2)      Hiperaktif adalah keadaan dimana pola perilaku anak overaktif yang cenderung menyimpang ( tidak pada tempatnya) dan semaunya sendiri, terkadang menimbulkan kerusakan, mengganggu orang lain dan bisa membahayakan jiwa anak sendiri.
3)      Sindrom hiperkenetik adalah semua bentuk aktivitas yang parah yang menyertai kelambatan dalam perkembangan psikologinya, misal  dalam perkembangan bicara kikuk, kesulitan bicara.

c.   Penyebab
1)      Gangguan perkembangan otak pada masa janin di akibatkan keracunan kehamilan
2)      Keracunan timbal yang parah pada masa kanak-kanak, menyebabkan gangguan proses perkembangan otak ditandai dengan kesulitan konsentrasi dan hiperaktif. Sumber produksi timbal yaitu batu battery,asap kendaraan, cat rumah yang sudah tua, bengkel produksi mobil bekas.
3)      Infeksi Telinga, yang menyebakan lemahnya pendengaran sehingga perkembangan bahasa lamban dan perilaku menjadi hiperaktif.
4)      Disfungsi neurologis, dengan gejala utama tidak bisa memusatkan perhatian.

d.   Penanganan
1.   Bimbinglah anak hiperaktif menemukan keunggulan dan kekuatan. Hal ini bertujuan agar mereka  terlatih menghargai diri pribadi yang memiliki keunikan yaitu kelebihan dan kekurangan.
2.   Ajarkan disiplin. Disipilin yang tinggi pada anak hiperaktif penting agar ia dapat mengatur dirinya dengan baik.
3.   Jangan menghukum.  Perilaku hiperaktif anak bukanlah suatu kesalahan yang disengaja, tetapi karena perkembangan otaknya tak sempurna, dan ia tidak perlu dihukum.
4.   Salurkan ke-agresifan anak. Libatkan dan ikutsertakan anak dalam kegiatan olahraga dan kegiatan di luar ruangan.
5.   Jangan memberi label. Jangan member label anak hiperaktfi dengan kata-kata “nakal/bodoh/malas”, karena pada akhirnya ia akan berperilaku seperti yang dilabelkan kepadanya, bantu anak menyelesaikan permasalahannya.
6.   Pengulangan . Teruslah mengulang   hal-hal yang dengan cepat dapat dipelajari dan diingat oleh anak.
7.   Perbanyak komunikasi. Jika pada anak normal hanya berkomunikasi pada saat tertentu, maka pada anak hiperaktif  harus berkomunikasi lebih sering.
8.   Pengawasan. Lakukan pengawasan gerakan anak yang bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain. (www. bidansmart.wordpress.com/.../masalah-perkembangan-pada-anak)

Pertumbuhan dan perkembangan anak yang mengalami perlakuan salah, pada umumnya lebih lambat dari anak yang normal yaitu:
1.    Pertumbuhan fisik pada anak pada umumnya kurang dari anak-anak sebayanya yang tidak mendapat perlakuan salah.
2.    Perkembangan kejiwaan mengalami gangguan yaitu :
a.       Kecerdasan
-          Keterlambatan dalam perkembangan kognitif, bahasa, membaca dan motorik.
-          Retardasi mental diakibatkan trauma langsung pada kepala dan malnutrisi
-          Tidak adanya stimulasi yang adekuat atau karena gangguan emosi
b.      Emosi
-          Perlu anamnesis yang lengkap dari keluarga
-          Terdapat gangguan emosi pada: perkembangan konsep diri yang positif, dalam mengatasi sifat agresif, perkembangan hubungan social dengan orang lain, termasuk kemampuan untuk percaya diri.
-          Terjadi pseudomaturitas emosi. Anak menjadi agresif/ bermusuhan dengan orang dewasa atau menjadi posesif/ menjauhi pergaulan.
c.       Konsep diri
Anak yang mendapat perlakuan salah merasa dirinya jelek, tidak dicintai, tidak dikehendaki, muram, dan tidak bahagia, tidak mampu menyenangi aktifitas dan bahkan mencoba bunuh diri.
d.      Agresif
Anak yang mendapat perlakuan salah secara badani, lebih agresif terhadap teman sebayanya. Sering tindakan agresif tersebut meniru tindakan orang tua mereka sebagai hasil miskinnya konsep diri.
e.       Hubungan social
Pada anak-anak ini sering kurang dapat bergaul dengan teman sebayanya atau dengan orang dewasa. Mereka mempunyai sedikit teman, dan suka mengganggu orang dewasa dengan melempari batu, dan perbuatan criminal lainnya. (Soetjiningsih, 1995)


DAFTAR PUSTAKA

Soetjiningsih, 1995. Tumbuh Kembang Anak, Jakarta: EGC
www. bidansmart.wordpress.com/.../masalah-perkembangan-pada-anak
 



Previous Post Next Post